Bungko - Pemerintah Desa Bungko mengimbau seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tiga persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan keluarga: tuberkulosis (TBC). stunting yang berkaitan dengan pernikahan dini, dan rubella pada anak. Imbauan ini disampaikan dengan harapan dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pesan "Jaga Kesehatan Keluarga, Wujudkan Desa Bebas TBC", Pemdes Bungko mengajak warga mengenali penyakit yang menular lewat udara itu sejak dini. TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain.
Warga diminta waspada bila mengalami batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam (terutama sore hari), berkeringat di malam hari tanpa sebab jelas, berat badan dan nafsu makan menurun, serta nyeri dada. Penularan terjadi saat penderita batuk, bersin, atau berbicara dalam jarak dekat di ruang tertutup.
Untuk pencegahan, warga dianjurkan memakai masker saat batuk atau sakit, memastikan rumah dan tempat kerja berventilasi baik serta terkena sinar matahari, menjaga kebersihan tangan dan lingkungan, menerapkan pola makan bergizi seimbang, dan memeriksakan kesehatan secara rutin.
Pemdes juga menegaskan bahwa TBC dapat disembuhkan. Obat tersedia gratis di puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat. Pengobatan harus dijalani teratur minimal enam bulan sampai tuntas agar penderita sembuh dan tidak menularkan penyakit ke orang lain. Dukungan keluarga disebut sangat penting bagi kesembuhan pasien.
Pada isu kedua, Pemdes Bungko mengingatkan warga tentang pentingnya mencegah stunting dari pernikahan dini atau di bawah umur. Pernikahan dini dinilai bukan solusi, karena berisiko menimbulkan stunting pada anak yang dilahirkan. Dampak lainnya adalah kesehatan ibu dan anak yang lebih rentan, pendidikan yang terhenti, ekonomi keluarga yang tidak stabil, dan risiko perceraian yang lebih besar.
Orang tua dan masyarakat diajak melindungi anak dengan memastikan kecukupan gizi yang seimbang, mendukung pendidikan setinggi mungkin, mengajarkan kesehatan reproduksi sejak dini, dan tidak menikahkan anak di bawah umur. Pemdes mengajak remaja untuk menunda menikah demi meraih masa depan yang lebih baik, dengan pesan "Stop Pernikahan Dini, Stop Stunting".

Isu ketiga adalah rubella atau campak Jerman, penyakit menular akibat virus yang dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Pada anak, rubella ditandai demam dan ruam. Bahayanya mencakup gangguan pendengaran, katarak atau kebutaan, mikrosefali, kelainan jantung bawaan, dan keterlambatan tumbuh kembang.
Pemdes mengajak orang tua membawa anak ke posyandu dan puskesmas untuk melengkapi imunisasi sesuai jadwal. Warga juga diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), rutin ke posyandu untuk deteksi dini penyakit, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila ada gejala. Imunisasi disebut sebagai cara paling efektif mencegah rubella.

Pemdes Bungko berharap seluruh lapisan masyarakat, mulai dari keluarga, tokoh masyarakat, kader posyandu, hingga remaja, ikut aktif menyebarkan informasi ini.
Dengan kesadaran bersama, Desa Bungko diharapkan dapat terus bergerak menuju lingkungan yang sehat, bebas TBC, bebas stunting, dan terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.